Apa Itu Self-Esteem? Ciri-Ciri dan Cara Meningkatkannya
Self-esteem atau harga diri berkaitan dengan cara seseorang memandang, menilai, dan menghargai dirinya sendiri. Self-esteem dapat memengaruhi bagaimana seseorang melihat kemampuan, menerima kekurangan, menghadapi kegagalan, serta merespons penilaian dari orang lain.
Pernah merasa kemampuan diri sebenarnya cukup, tetapi tetap merasa tidak layak? Atau mungkin sering membandingkan diri dengan orang lain hingga akhirnya merasa tertinggal?
Pengalaman seperti itu dapat membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya. Karena itu, memahami apa itu self-esteem menjadi langkah penting untuk mengenali pola pandangan terhadap diri sendiri dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri.

Baca Juga: Psikolog Online sebagai Langkah Awal Memahami Diri Sendiri
Apa Itu Self-Esteem?
Self-esteem adalah penilaian dan penghargaan seseorang terhadap dirinya sendiri. Penilaian tersebut berkaitan dengan perasaan bahwa dirinya memiliki nilai, mampu menghadapi kehidupan, dan layak mendapatkan perlakuan yang baik.
Self-esteem bukan berarti merasa diri selalu hebat atau lebih baik daripada orang lain.
Seseorang dengan self-esteem yang sehat tetap dapat mengakui kekurangan. Ia juga dapat menerima bahwa dirinya bisa melakukan kesalahan tanpa langsung menyimpulkan bahwa dirinya tidak berharga.
Sebaliknya, self-esteem yang rendah dapat membuat seseorang melihat kekurangan sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik secara keseluruhan.
Contohnya, ketika gagal dalam sebuah pekerjaan, seseorang dengan pandangan diri yang lebih sehat mungkin berpikir:
“Hasilnya belum sesuai harapan. Saya perlu melihat apa yang bisa diperbaiki.”
Sementara itu, orang dengan self-esteem rendah mungkin berpikir:
“Saya memang tidak mampu. Saya selalu gagal.”
Perbedaannya bukan hanya terletak pada kejadian yang dialami, tetapi juga pada cara seseorang menafsirkan kejadian tersebut.
Baca Juga: Skrining Kesehatan Mental: Cek Kondisi Psikologismu Sejak Dini
Self-Esteem Tidak Sama dengan Percaya Diri
Self-esteem dan kepercayaan diri sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya tidak sepenuhnya sama.
Kepercayaan diri lebih banyak berkaitan dengan keyakinan terhadap kemampuan melakukan sesuatu. Seseorang bisa sangat percaya diri ketika bekerja karena menguasai bidangnya.
Sementara itu, self-esteem berkaitan lebih luas dengan bagaimana seseorang memandang nilai dirinya.
Misalnya, seseorang dapat percaya diri ketika melakukan presentasi karena memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Namun, ia tetap bisa merasa dirinya tidak cukup berharga ketika menerima penolakan dalam hubungan.
Dengan kata lain, seseorang dapat memiliki kepercayaan diri pada bidang tertentu tetapi tetap memiliki self-esteem yang rendah.
Baca Juga: Psikolog Online Terbaik dan Terpercaya untuk Konsultasi Psikologi
Seperti Apa Self-Esteem yang Sehat?
Self-esteem yang sehat bukan berarti selalu merasa positif tentang diri sendiri.
Ada kalanya seseorang kecewa terhadap dirinya. Ada pula saat ketika ia merasa kurang mampu atau menyesali sebuah keputusan. Hal tersebut merupakan bagian yang wajar dari pengalaman manusia.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk melihat diri secara realistis dan seimbang.
Seseorang dengan self-esteem yang lebih sehat cenderung mampu:
- mengakui kelebihan tanpa merasa harus membuktikan diri kepada semua orang;
- menerima kekurangan tanpa terus merendahkan diri;
- menerima kritik tanpa langsung menganggap dirinya gagal;
- mengakui kesalahan dan belajar dari pengalaman;
- menetapkan batasan dalam hubungan;
- menerima bahwa tidak semua orang akan menyukainya;
- menghargai kebutuhan dan perasaannya sendiri.
Dengan cara pandang tersebut, harga diri tidak sepenuhnya bergantung pada pencapaian atau penilaian orang lain.
Baca Juga: Psikolog vs Psikiater: Ke Mana Harus Konseling Online?
Ciri-Ciri Self-Esteem Rendah
Self-esteem yang rendah dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang berbeda-beda. Tidak semua orang akan menunjukkan ciri yang sama.
Sering Meragukan Diri Sendiri
Seseorang mungkin terus mempertanyakan kemampuan dirinya meskipun sudah memiliki bukti bahwa ia mampu.
Contohnya, setelah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, ia justru berpikir bahwa keberhasilan tersebut hanya karena keberuntungan.
Keraguan seperti ini dapat membuat seseorang sulit mengakui pencapaiannya sendiri.
Terlalu Bergantung pada Penilaian Orang Lain
Pendapat orang lain memang dapat menjadi masukan. Namun, ketika harga diri sangat bergantung pada penerimaan eksternal, komentar kecil pun dapat terasa sangat menentukan.
Seseorang mungkin merasa sangat berharga ketika mendapat pujian. Sebaliknya, satu kritik dapat membuatnya merasa dirinya tidak memiliki kemampuan.
Sulit Menerima Pujian
Orang dengan self-esteem rendah terkadang kesulitan mempercayai pujian yang diterimanya.
Ketika seseorang berkata, “Kamu mengerjakan ini dengan baik,” respons yang muncul bisa berupa:
“Ah, kebetulan saja.”
Padahal, menerima apresiasi tidak berarti seseorang sedang menyombongkan diri.
Sering Membandingkan Diri
Media sosial dapat membuat proses perbandingan semakin mudah. Seseorang dapat melihat pencapaian, penampilan, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan orang lain dalam waktu singkat.
Jika dilakukan terus-menerus, perbandingan tersebut dapat membuat seseorang hanya memperhatikan apa yang tidak ia miliki.
Takut Melakukan Kesalahan
Kesalahan dapat terasa seperti ancaman terhadap harga diri.
Akibatnya, seseorang mungkin terlalu berhati-hati, menunda mencoba sesuatu, atau memilih tidak mengambil kesempatan karena takut hasilnya tidak sempurna.
Sulit Mengatakan Tidak
Seseorang yang sangat membutuhkan penerimaan orang lain mungkin merasa bersalah ketika menolak permintaan.
Ia akhirnya mengatakan “iya” meskipun sebenarnya sedang lelah, tidak punya waktu, atau tidak ingin melakukannya.
Jika pola ini berlangsung terus, kebutuhan diri sendiri dapat semakin sering diabaikan.
Cenderung Merendahkan Diri Sendiri
Kalimat seperti “Aku bodoh”, “Aku memang tidak bisa”, atau “Aku tidak sebaik orang lain” dapat menjadi bentuk self-talk yang negatif.
Jika terus berulang, cara berbicara kepada diri sendiri tersebut dapat memperkuat pandangan negatif terhadap diri.
Baca Juga: Psikolog Terpercaya: Cara Memilih dan Testimoni
Mengapa Self-Esteem Bisa Menjadi Rendah?
Self-esteem tidak terbentuk dalam satu hari. Cara seseorang memandang dirinya dapat dipengaruhi oleh berbagai pengalaman sepanjang hidup.
Pengalaman Masa Kecil
Cara orang tua, pengasuh, guru, atau orang-orang terdekat memberikan respons terhadap kesalahan dan pencapaian dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya.
Anak yang sering mendapatkan kritik tanpa dukungan, misalnya, dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya selalu kurang.
Namun, pengalaman masa kecil bukan satu-satunya faktor yang menentukan self-esteem seseorang.
Pengalaman Penolakan atau Kegagalan
Penolakan dalam hubungan, kegagalan akademik, kehilangan pekerjaan, atau pengalaman lain yang mengecewakan dapat memengaruhi penilaian terhadap diri.
Hal ini terutama terjadi ketika seseorang menganggap satu pengalaman buruk sebagai gambaran keseluruhan dirinya.
Lingkungan yang Sering Membandingkan
Lingkungan yang terlalu menekankan pencapaian dapat membuat seseorang merasa harus selalu memenuhi standar tertentu agar dianggap cukup.
Lama-kelamaan, pencapaian tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang menyenangkan, tetapi menjadi syarat untuk merasa berharga.
Pengalaman Relasi yang Tidak Sehat
Hubungan yang dipenuhi kritik, penghinaan, manipulasi, atau perlakuan yang merendahkan dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya.
Jika seseorang terus mendengar bahwa dirinya tidak mampu atau tidak layak, penilaian tersebut dapat perlahan memengaruhi pandangan dirinya sendiri.
Kebiasaan Membandingkan Diri
Tidak semua perbandingan memberikan dampak negatif. Namun, jika seseorang terus membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan versi terbaik kehidupan orang lain, penilaian terhadap dirinya dapat menjadi tidak seimbang.
Baca Juga: Apakah Saya Perlu Psikolog? Cek Tanda Ini
Bagaimana Cara Meningkatkan Self-Esteem?
Meningkatkan self-esteem bukan proses untuk meyakinkan diri bahwa semuanya sempurna.
Sebaliknya, proses ini lebih berkaitan dengan membangun cara pandang yang lebih realistis, adil, dan penuh penghargaan terhadap diri sendiri.
Mulai Perhatikan Cara Berbicara kepada Diri Sendiri
Coba dengarkan apa yang biasanya muncul di kepala ketika melakukan kesalahan.
Apakah Anda langsung mengatakan:
“Kenapa saya sebodoh ini?”
Jika iya, cobalah menggantinya dengan kalimat yang lebih realistis:
“Bagian ini memang belum saya kuasai. Saya bisa mencari tahu cara memperbaikinya.”
Tujuannya bukan membuat semua pikiran menjadi positif. Tujuannya adalah mengurangi kebiasaan menghakimi diri secara berlebihan.
Pisahkan Kesalahan dari Nilai Diri
Melakukan kesalahan tidak sama dengan menjadi orang yang gagal.
Seseorang dapat gagal dalam ujian tanpa menjadi orang yang bodoh. Seseorang dapat ditolak tanpa menjadi orang yang tidak layak dicintai.
Cobalah melihat kejadian secara spesifik.
“Saya gagal dalam hal ini” berbeda dengan “Saya adalah orang yang gagal.”
Perbedaan sederhana tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya.
Berhenti Menjadikan Pencapaian sebagai Satu-Satunya Ukuran
Pencapaian memang penting. Namun, nilai diri tidak harus bergantung sepenuhnya pada produktivitas.
Anda tetap memiliki nilai ketika sedang beristirahat. Anda juga tetap berharga ketika belum mencapai target yang diinginkan.
Dengan begitu, kegagalan atau perubahan keadaan tidak langsung mengguncang seluruh pandangan terhadap diri sendiri.
Kenali Kekuatan Diri
Mengenali kelebihan bukan berarti menyombongkan diri.
Cobalah mencatat kemampuan, karakter positif, atau hal-hal yang pernah berhasil Anda lakukan.
Tidak harus berupa pencapaian besar. Kemampuan mendengarkan orang lain, bertanggung jawab, bertahan dalam situasi sulit, atau berusaha memperbaiki kesalahan juga merupakan bagian dari kekuatan diri.
Belajar Menetapkan Batasan
Self-esteem juga berkaitan dengan cara seseorang memperlakukan kebutuhan dirinya.
Belajar mengatakan “tidak” ketika memang diperlukan dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Menetapkan batasan bukan berarti menjadi egois. Batasan membantu seseorang menentukan apa yang dapat diterima dan apa yang tidak dalam sebuah hubungan.
Kurangi Perbandingan yang Tidak Sehat
Ketika menyadari bahwa media sosial membuat Anda terus membandingkan diri, coba perhatikan kembali akun atau konten yang dikonsumsi.
Anda tidak harus mengikuti perkembangan semua orang.
Mengurangi paparan terhadap perbandingan yang membuat diri terus merasa kurang dapat memberi ruang untuk melihat kehidupan sendiri dengan lebih objektif.
Berikan Ruang untuk Bertumbuh
Tidak semua perubahan harus terjadi dengan cepat.
Jika selama bertahun-tahun seseorang terbiasa merendahkan diri, tentu dibutuhkan waktu untuk membangun pola pikir yang berbeda.
Karena itu, ukur perkembangan dari perubahan kecil. Misalnya, mulai berani menyampaikan pendapat, lebih mampu menerima pujian, atau tidak lagi menyalahkan diri selama berjam-jam setelah melakukan kesalahan.
Baca Juga: Cara Kerja Psikolog Online dan Apa yang Akan Anda Dapatkan
Apa yang Bisa Dilakukan Ketika Self-Esteem Turun Setelah Mengalami Kegagalan?
Kegagalan dapat membuat penilaian terhadap diri berubah sementara. Pada kondisi seperti ini, jangan buru-buru mengambil kesimpulan tentang diri sendiri.
Cobalah melihat tiga hal:
Apa yang terjadi?
Pisahkan fakta dari penilaian terhadap diri.
Apa yang bisa dipelajari?
Cari bagian yang dapat diperbaiki tanpa menjadikan kesalahan sebagai identitas diri.
Apa yang tetap menjadi kekuatan saya?
Satu kegagalan tidak menghapus seluruh kemampuan dan pengalaman yang sudah dimiliki.
Pendekatan tersebut membantu seseorang melihat kegagalan sebagai sebuah pengalaman, bukan sebagai definisi dirinya.
Baca Juga: Perbedaan Curhat dan Konseling Psikolog, Jangan Salah
Kapan Self-Esteem Rendah Perlu Dibicarakan dengan Psikolog?
Memiliki keraguan terhadap diri sendiri sesekali merupakan hal yang dapat dialami banyak orang. Namun, kondisi menjadi lebih penting untuk diperhatikan ketika penilaian negatif terhadap diri terus muncul dan mulai mengganggu kehidupan.
Konsultasi dengan psikolog dapat dipertimbangkan jika seseorang:
- terus merasa dirinya tidak berharga;
- sangat takut terhadap penolakan;
- sulit menjalani hubungan karena selalu merasa tidak cukup baik;
- menghindari kesempatan karena takut gagal;
- terus membandingkan diri dengan orang lain;
- mengalami kesulitan menetapkan batasan;
- sering menyalahkan diri secara berlebihan;
- atau merasa pandangan negatif terhadap diri semakin sulit dikendalikan.
Dalam konseling, pembahasan tidak hanya berfokus pada “bagaimana menjadi lebih percaya diri”. Psikolog dapat membantu mengeksplorasi bagaimana pandangan terhadap diri terbentuk, pengalaman apa yang memengaruhinya, serta pola berpikir yang masih dipertahankan hingga saat ini.
Baca Juga: Biaya Konsultasi Psikolog Online Terjangkau (Daftar Harga & Cara Booking)
FAQ tentang Self-Esteem
Apakah self-esteem bisa berubah?
Ya. Cara seseorang menilai dirinya dapat berubah seiring pengalaman, lingkungan, hubungan, dan proses belajar. Karena itu, self-esteem bukan sesuatu yang harus selalu berada pada tingkat yang sama sepanjang hidup.
Apakah orang yang percaya diri pasti memiliki self-esteem tinggi?
Belum tentu. Seseorang dapat percaya diri dalam bidang tertentu tetapi tetap memiliki pandangan negatif terhadap dirinya dalam aspek lain.
Apakah self-esteem rendah sama dengan tidak percaya diri?
Tidak persis sama. Kurang percaya diri dapat muncul dalam situasi tertentu, sedangkan self-esteem berkaitan lebih luas dengan bagaimana seseorang menilai nilai dirinya.
Apakah meningkatkan self-esteem berarti harus selalu berpikir positif?
Tidak. Self-esteem yang sehat tidak membutuhkan pikiran positif setiap saat. Yang lebih penting adalah kemampuan melihat diri secara realistis tanpa terus merendahkan atau menghakimi diri sendiri.
Baca Juga: Cara Mengatasi Overthinking tentang Masa Depan
Self-esteem berkaitan dengan cara seseorang melihat dan menghargai dirinya sendiri. Ketika self-esteem rendah, seseorang dapat lebih mudah meragukan kemampuan, takut terhadap penolakan, membandingkan diri, atau menganggap kesalahan sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.
Kabar baiknya, cara seseorang memandang diri dapat dikembangkan.
Mulailah dari hal sederhana: perhatikan cara berbicara kepada diri sendiri, pisahkan kesalahan dari nilai diri, kenali kekuatan yang dimiliki, dan belajar menghargai kebutuhan pribadi.
Jika pandangan negatif terhadap diri sudah berlangsung lama atau mulai memengaruhi hubungan dan kehidupan sehari-hari, membicarakannya dengan psikolog dapat membantu memahami akar masalah dan membangun cara menghadapi diri sendiri dengan lebih sehat.



