Bagaimana Memilih Validator yang Tepat?
Bagaimana memilih validator yang tepat? Pertanyaan ini sering muncul ketika mahasiswa mulai mempersiapkan proses expert judgement untuk instrumen penelitiannya. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa semua dosen atau profesional dapat menjadi validator selama memahami topik penelitian secara umum. Padahal, pemilihan validator perlu mempertimbangkan kesesuaian kompetensi dengan variabel dan instrumen yang digunakan.
Memilih validator yang tepat sangat penting karena kualitas masukan yang diberikan akan memengaruhi kualitas instrumen penelitian. Oleh karena itu, peneliti perlu memahami beberapa kriteria sebelum menentukan siapa yang akan melakukan proses expert judgement.
Mengapa Memilih Validator yang Tepat Sangat Penting?
Validator tidak hanya memberikan persetujuan terhadap instrumen yang telah disusun. Sebaliknya, validator berperan membantu peneliti menilai apakah item yang dibuat telah sesuai dengan teori, indikator, dan tujuan penelitian.
Masukan yang diberikan dapat berupa:
- perbaikan redaksi item;
- penyesuaian indikator penelitian;
- penambahan atau pengurangan butir instrumen;
- evaluasi terhadap kesesuaian teori yang digunakan; serta
- saran penyempurnaan instrumen sebelum uji coba dilakukan.
Dengan demikian, pemilihan validator yang tepat akan membantu peneliti memperoleh masukan yang lebih relevan dan bermanfaat.
Bagaimana Memilih Validator yang Tepat Sesuai Penelitian?
Sebelum menentukan validator, pastikan Anda memahami terlebih dahulu karakteristik penelitian yang sedang dilakukan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- variabel yang diteliti;
- teori yang menjadi landasan penelitian;
- jenis instrumen yang digunakan;
- karakteristik responden; dan
- tujuan penggunaan instrumen.
Informasi tersebut akan membantu Anda menentukan kompetensi validator yang paling sesuai.
Bagaimana Memilih Validator yang Tepat Sesuai Variabel Penelitian?
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah memilih validator hanya karena memiliki gelar akademik tertentu.
Padahal, yang lebih penting adalah kesesuaian antara keahlian validator dan variabel penelitian.
Sebagai contoh:
- penelitian mengenai kecemasan lebih tepat divalidasi oleh ahli yang memahami bidang psikologi klinis;
- penelitian mengenai pendidikan dapat melibatkan ahli yang memiliki kompetensi pada bidang pendidikan;
- instrumen mengenai perilaku organisasi dapat dipertimbangkan untuk divalidasi oleh ahli yang memahami psikologi industri dan organisasi atau bidang terkait.
Oleh sebab itu, pastikan validator memiliki kompetensi yang relevan dengan topik yang diteliti.
Baca Juga: Contoh Surat Permohonan Expert Judgement untuk Mahasiswa
Kriteria Validator yang Tepat dalam Expert Judgement
Selain keahlian, pengalaman akademik maupun profesional juga menjadi pertimbangan penting.
Validator yang memiliki pengalaman dalam:
- penelitian;
- penyusunan instrumen;
- validasi alat ukur; atau
- bidang keilmuan yang sesuai,
dapat memberikan masukan yang lebih komprehensif terhadap instrumen yang Anda susun.
Namun, pengalaman bukan berarti harus selalu diukur dari lamanya masa kerja. Kesesuaian kompetensi tetap menjadi aspek yang lebih utama.
Apakah Dosen Pembimbing Merupakan Validator yang Tepat?
Pertanyaan ini juga cukup sering diajukan oleh mahasiswa.
Jawabannya dapat berbeda tergantung pada ketentuan program studi maupun kebijakan institusi masing-masing. Pada beberapa penelitian, dosen pembimbing dapat menjadi validator apabila kompetensinya sesuai dengan variabel penelitian. Sementara itu, terdapat pula program studi yang mensyaratkan validator berasal dari pihak lain.
Karena itu, pastikan Anda terlebih dahulu memahami pedoman akademik yang berlaku di kampus Anda.
Apakah Validator Harus Berasal dari Bidang yang Sama?
Pada umumnya, validator dipilih berdasarkan kesesuaian kompetensinya dengan aspek yang akan dinilai.
Sebagai contoh, penelitian yang melibatkan proses adaptasi instrumen dapat memerlukan beberapa pihak dengan kompetensi yang berbeda, seperti:
- ahli substansi variabel;
- ahli bahasa;
- ahli metodologi penelitian; atau
- profesional yang memahami karakteristik responden penelitian.
Dengan demikian, satu penelitian dapat saja melibatkan lebih dari satu validator apabila memang diperlukan.
Jangan Hanya Mempertimbangkan Kemudahan Menghubungi Validator
Sebagian mahasiswa memilih validator karena faktor kedekatan atau kemudahan komunikasi.
Meskipun hal tersebut dapat menjadi pertimbangan praktis, jangan sampai mengabaikan kualitas proses expert judgementyang akan dilakukan.
Validator yang tepat seharusnya dipilih karena:
- kompetensinya sesuai;
- memahami bidang penelitian yang dibahas;
- mampu memberikan masukan yang konstruktif; dan
- menjalankan proses validasi secara profesional.
Baca Juga: Jasa Expert Judgement Online untuk Mahasiswa Seluruh Indonesia
Siapkan Dokumen Sebelum Menghubungi Validator
Pemilihan validator juga perlu diikuti dengan persiapan dokumen yang baik.
Sebelum menghubungi validator, pastikan Anda telah menyiapkan:
- judul penelitian;
- definisi operasional variabel;
- kisi-kisi instrumen;
- draf instrumen penelitian;
- lembar penilaian expert judgement; dan
- penjelasan singkat mengenai tujuan penelitian.
Dokumen yang lengkap akan memudahkan validator memahami konteks penelitian Anda sehingga proses penilaian dapat berlangsung lebih optimal.
Tidak Ada Validator yang Paling Baik untuk Semua Penelitian
Penting untuk dipahami bahwa tidak terdapat satu validator yang selalu menjadi pilihan terbaik untuk seluruh penelitian.
Validator yang tepat adalah validator yang:
- sesuai dengan variabel penelitian;
- memiliki kompetensi yang relevan;
- memahami aspek yang akan dinilai; dan
- mampu memberikan masukan yang mendukung kualitas instrumen.
Dengan kata lain, pemilihan validator perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penelitian.
Layanan Expert Judgement Online dari Sanara
Sanara menyediakan layanan expert judgement online untuk mahasiswa dari seluruh Indonesia. Proses validasi dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian kompetensi validator terhadap instrumen yang diajukan sehingga masukan yang diberikan lebih relevan dengan kebutuhan penelitian.
Selain itu, peneliti juga akan memperoleh catatan dan rekomendasi perbaikan yang dapat digunakan untuk menyempurnakan instrumen sebelum memasuki tahap uji coba.
Baca Juga: Expert Judgement Sebelum atau Sesudah Uji Coba Instrumen?
Bagaimana memilih validator yang tepat? Pemilihan validator sebaiknya mempertimbangkan kesesuaian kompetensi dengan variabel penelitian, pengalaman yang relevan, serta kebutuhan instrumen yang akan divalidasi. Jangan hanya memilih berdasarkan kemudahan akses atau gelar akademik semata.
Dengan memilih validator yang tepat, proses expert judgement dapat memberikan masukan yang lebih berkualitas sehingga membantu peneliti menghasilkan instrumen yang lebih baik dan siap digunakan pada tahap berikutnya.



