Expert Judgement Sebelum atau Sesudah Uji Coba Instrumen?
Expert judgement sebelum atau sesudah uji coba instrumen? Pertanyaan ini sering muncul ketika mahasiswa mulai memasuki tahap penyusunan instrumen penelitian. Tidak sedikit yang merasa bingung mengenai urutan yang benar karena setiap dosen atau program studi terkadang memiliki kebiasaan yang berbeda dalam memberikan arahan.
Padahal, memahami urutan proses validasi instrumen sangat penting. Dengan mengikuti tahapan yang tepat, Anda dapat menyusun instrumen yang lebih berkualitas sekaligus mengurangi risiko revisi pada tahap berikutnya. Oleh karena itu, mari pahami kapan expert judgement sebaiknya dilakukan dan bagaimana hubungannya dengan uji coba instrumen.
Memahami Tujuan Expert Judgement dan Uji Coba Instrumen
Sebelum menentukan urutannya, Anda perlu memahami bahwa expert judgement dan uji coba instrumen memiliki tujuan yang berbeda.
Expert judgement bertujuan menilai apakah isi instrumen sudah sesuai dengan teori, indikator, dan tujuan penelitian. Pada tahap ini, validator memberikan masukan mengenai substansi, redaksi, relevansi, dan kelayakan setiap butir.
Sementara itu, uji coba instrumen bertujuan memperoleh data empiris dari responden. Melalui tahap ini, peneliti dapat menghitung validitas, reliabilitas, atau karakteristik statistik lainnya sesuai metode penelitian yang digunakan.
Karena memiliki fungsi yang berbeda, kedua tahapan tersebut saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Expert Judgement Sebaiknya Dilakukan Sebelum Uji Coba Instrumen
Dalam sebagian besar penelitian kuantitatif, expert judgement dilakukan sebelum uji coba instrumen.
Alasannya cukup sederhana. Validator akan membantu memastikan bahwa setiap butir sudah mewakili indikator yang ingin diukur. Dengan demikian, peneliti dapat memperbaiki kelemahan instrumen sebelum membagikannya kepada responden.
Jika Anda langsung melakukan uji coba tanpa melalui expert judgement, ada kemungkinan beberapa butir ternyata kurang sesuai dengan konsep teoritis. Akibatnya, hasil uji coba menjadi kurang optimal dan Anda mungkin perlu mengulang proses pengumpulan data.
Baca Juga: Dokumen yang Harus Disiapkan untuk Expert Judgement
Mengapa Tidak Langsung Melakukan Uji Coba?
Sebagian mahasiswa berpikir bahwa uji coba saja sudah cukup untuk mengetahui kualitas instrumen. Padahal, uji statistik tidak selalu dapat menunjukkan apakah suatu butir benar-benar sesuai dengan konsep yang ingin diukur.
Sebagai contoh, sebuah item dapat memiliki nilai statistik yang baik, tetapi isi pertanyaannya kurang merepresentasikan indikator penelitian. Oleh sebab itu, penilaian dari ahli tetap diperlukan sebelum instrumen digunakan kepada responden.
Alur Penyusunan Instrumen yang Umum Digunakan
Secara umum, proses penyusunan instrumen penelitian berlangsung melalui tahapan berikut.
- Menentukan variabel penelitian.
- Menyusun definisi operasional.
- Menentukan dimensi dan indikator berdasarkan teori.
- Menyusun kisi-kisi instrumen.
- Menulis butir pernyataan atau pertanyaan.
- Melakukan expert judgement.
- Merevisi instrumen berdasarkan masukan validator.
- Melaksanakan uji coba instrumen.
- Menganalisis hasil uji validitas dan reliabilitas.
- Menyempurnakan instrumen sebelum penelitian utama.
Urutan tersebut membantu peneliti memastikan bahwa instrumen telah memenuhi aspek teoritis sekaligus aspek empiris.
Apakah Ada Kondisi yang Berbeda?
Pada beberapa penelitian, peneliti dapat melakukan penyesuaian sesuai pedoman kampus, metode penelitian, atau karakteristik instrumen.
Misalnya, penelitian yang mengadaptasi instrumen dari luar negeri sering memerlukan beberapa tahap tambahan, seperti proses translasi, back translation, diskusi pakar, dan uji coba awal.
Karena itu, selalu perhatikan pedoman yang berlaku di program studi atau arahan dosen pembimbing.
Baca Juga: Jasa Expert Judgement Online untuk Mahasiswa Seluruh Indonesia
Apa yang Dilakukan Setelah Expert Judgement?
Setelah menerima masukan dari validator, jangan langsung menyebarkan instrumen kepada responden.
Sebaiknya Anda:
- mempelajari seluruh komentar validator;
- memperbaiki redaksi yang kurang jelas;
- menyesuaikan indikator apabila diperlukan;
- menghapus atau menambah butir sesuai rekomendasi; dan
- memeriksa kembali konsistensi instrumen.
Selanjutnya, gunakan versi yang telah direvisi untuk proses uji coba sehingga data yang diperoleh lebih berkualitas.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Mahasiswa
Beberapa kesalahan berikut masih sering terjadi.
- Mengirim instrumen kepada responden sebelum memperoleh masukan dari validator.
- Mengabaikan komentar yang diberikan oleh ahli.
- Melakukan uji coba menggunakan versi instrumen yang belum direvisi.
- Menganggap expert judgement hanya sebagai persyaratan administrasi.
- Tidak mendokumentasikan hasil revisi setelah proses validasi.
Kesalahan tersebut dapat memperpanjang proses penelitian karena peneliti harus memperbaiki instrumen dan mengulang tahapan berikutnya.
Layanan Expert Judgement Online dari Sanara
Sanara menyediakan layanan expert judgement online untuk mahasiswa dari seluruh Indonesia. Layanan ini membantu peneliti memperoleh penilaian terhadap isi instrumen sebelum melaksanakan uji coba.
Selain memberikan penilaian, validator juga menyampaikan saran perbaikan yang dapat Anda gunakan untuk menyempurnakan instrumen sebelum memasuki tahap analisis statistik.
Baca Juga: Apa Itu Expert Judgement dalam Penelitian? Fungsi & Contohnya
Expert judgement sebelum atau sesudah uji coba instrumen? Pada umumnya, expert judgement dilakukan terlebih dahulu. Tahap ini membantu memastikan bahwa setiap butir telah sesuai dengan teori, indikator, dan tujuan penelitian. Setelah peneliti melakukan revisi berdasarkan masukan validator, barulah instrumen digunakan dalam uji coba untuk memperoleh bukti empiris mengenai validitas dan reliabilitasnya.
Dengan mengikuti urutan tersebut, Anda dapat menghemat waktu, mengurangi revisi berulang, dan meningkatkan kualitas instrumen penelitian sejak awal.



