Mengatasi Self-Harm pada Remaja: Mengapa Terjadi dan Bagaimana Peran Psikolog?
Pada kenyataannya, melihat anak remaja tumbuh dengan penuh tekanan tentu membuat orang tua sangat khawatir. Namun, apa jadinya jika tekanan tersebut berujung pada tindakan melukai diri sendiri? Faktanya, kasus self-harm atau melukai diri sendiri kini semakin meningkat di kalangan remaja. Banyak orang tua merasa syok dan tidak mengerti mengapa anak mereka melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, memahami cara mengatasi self-harm pada remaja menjadi langkah krusial yang harus orang tua kuasai. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebabnya dan peran psikolog dalam penanganannya berikut ini.

Baca Juga: Psikolog Online Terbaik dan Terpercaya untuk Konsultasi Psikologi
Memahami Fenomena Self-Harm pada Remaja
Secara umum, masyarakat sering menganggap self-harm sebagai percobaan bunuh diri. Padahal, kedua hal tersebut berbeda. Melainkan, self-harm adalah cara seseorang untuk menyalurkan rasa sakit emosional yang tidak tertahankan ke dalam rasa sakit fisik. Biasanya, mereka melukai diri dengan cara memukul, menggaruk, memotong kulit, atau bahkan membakar bagian tubuh tertentu.
Faktanya, remaja melakukan tindakan ini bukan untuk mengakhiri hidup. Sebaliknya, mereka mencoba bertahan hidup dari tekanan batin yang luar biasa. Pasalnya, rasa sakit fisik seringkali lebih mudah dipahami dan ditangani dibandingkan rasa hancur di dalam hati.
Baca Juga: Biaya Konsultasi Psikolog Online Terjangkau (Daftar Harga & Cara Booking)
Mengapa Remaja Melukai Diri Sendiri?
Banyak alasan mendasar mengapa remaja akhirnya memilih self-harm sebagai solusi sementara. Berikut adalah beberapa pemicunya:
1. Kesulitan Mengelola Emosi (Emotional Regulation)
Pertama, masa remaja adalah masa transisi di mana emosi sering bergejolak. Ketika mereka merasa marah, sedih, atau kecewa secara berlebihan, otak mereka kesulitan memprosesnya. Oleh karena itu, rasa sakit fisik sering menjadi “alat distraksi” agar mereka fokus pada luka fisik dan melupakan luka batin sesaat.
2. Tekanan Sosial dan Bullying
Selanjutnya, lingkungan sekolah dan teman sebaya sangat berpengaruh. Remaja yang menjadi korban bullying, cyberbullying, atau merasa terisolasi sosial akan merasa tidak berharga. Akibatnya, mereka melukai diri sebagai bentuk hukuman atas “kegagalan” mereka di lingkungan sosial.
3. Luka Batin atau Trauma Masa Lalu
Selain itu, pengalaman buruk di masa lalu juga memicu tindakan ini. Pengabaian (neglect), kekerasan rumah tangga, atau pelecehan seksual membuat remaja kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Melalui self-harm, mereka merasa bisa mengambil alih kendali itu kembali.
Baca Juga: Apa Itu Gentle Parenting? Panduan untuk Orang Tua
Tanda-Tanda Peringatan (Red Flags) Self-Harm
Umumnya, remaja berusaha menutupi tindakan ini dengan sangat rapat. Namun, sebagai orang tua, Anda harus peka terhadap tanda-tanda berikut:
- Pertama, Menutupi Bagian Tubuh Tertentu. Misalnya, mereka tiba-tiba selalu memakai kaus lengan panjang atau celana panjang meski cuaca sedang panas.
- Kedua, Sering Ditemukan Alat Berbahaya. Anda menemukan pisau cutter, paku, atau kawat yang tersembunyi di kamar mereka.
- Ketiga, Luka yang Sering Berubah Cerita. Jika mereka punya luka gores atau memar, mereka memberikan alasan yang tidak masuk akal seperti “kecleset di dahan” berkali-kali.
- Terakhir, Menarik Diri dari Lingkungan. Mereka tiba-tiba menghindari teman, enggan ikut acara keluarga, atau selalu mengunci diri di kamar.
Bagaimana Peran Psikolog dalam Mengatasi Self-Harm?
Jika Anda menemukan tanda-tanda di atas, jangan pernah memarahi atau menghakimi mereka. Marah hanya akan memperparah rasa bersalah mereka. Sebaliknya, segera cari bantuan profesional. Inilah peran penting psikolog dalam proses pemulihan:
1. Memberikan Ruang Aman Tanpa Menghakimi
Pada dasarnya, psikolog terlatih untuk mendengarkan secara empatik. Di ruang konsultasi, remaja bebas menumpahkan rasa frustrasinya tanpa takut dimarahi atau dinilai “gila”. Dengan begitu, terapis bisa menggali akar masalah sebenarnya.
2. Mengajarkan Keterampilan Mengatasi Emosi (Coping Skills)
Selanjutnya, psikolog akan mengajarkan teknik mengelola emosi yang sehat. Misalnya, teknik relaksasi, mindfulness, atau cara menyalurkan amarah melalui olahraga dan seni. Hal ini bertujuan menggantikan kebiasaan self-harm dengan coping mechanism yang positif.
3. Terapi Keluarga (Family Therapy)
Faktanya, self-harm bukan hanya masalah remaja, melainkan masalah sistem keluarga. Oleh karena itu, psikolog juga akan membimbing orang tua cara berkomunikasi yang mendukung. Anda akan belajar cara memvalidasi perasaan anak dan menciptakan rumah yang aman secara emosional.
Baca Juga: Psikolog Online sebagai Langkah Awal Memahami Diri Sendiri
Secara keseluruhan, self-harm adalah jeritan tolong yang menyakitkan dari seorang remaja. Mengabaikannya atau sekadar melarangnya tidak akan menyelesaikan masalah. Melainkan, mereka butuh dukungan, pengertian, dan penanganan profesional untuk melepaskan beban batin mereka.
Jika Anda menghadapi situasi ini, Sanara.id siap menjadi tempat aman untuk pemulihan anak Anda. Kami menyediakan layanan konseling remaja yang dipandu oleh psikolog anak berpengalaman. Kami akan mendampingi anak Anda untuk memahami emosinya, melepaskan traumanya, dan mengganti kebiasaan merusak diri dengan cara penanganan yang lebih sehat. Tersedia layanan konsultasi tatap muka maupun online (televideo) dengan privasi yang terjamin.
Oleh karena itu, jangan tunggu hingga luka semakin dalam. Kunjungi Sanara.id sekarang, jadwalkan sesi konsultasi, dan selamatkan masa depan serta kesehatan mental remaja Anda bersama kami.



